TAK SEBANDING

Aku memiliki banyak opsi di kepala yang berderet seperti buku di perpustakaan dan aku tinggal memilih. Aku bisa meracunimu diam-diam dengan sianida seperti dalam Saksi Bisu. Orang akan mengira kau menderita penyakit kuning dan menganggap kematianmu wajar. Atau aku bisa juga memasukkan merica ke dalam makananmu agar kau tersedak sampai tidak bisa bernafas. seperti Pierce Brosnan dalam Mrs. Doubtfire. Merica dalam jumlah besar bisa membunuhmu. Atau yang paling sederhana, aku bisa membekapmu dengan bantal di tengah malam saat kau sedang tertidur lelap. Tapi kau perempuanku. “Apa yang sedang kau pikirkan?” bisikmu pelan di telingaku. Aku balas berbisik, “Kurasa, tidak ada cinta yang lebih besar dari milikku.” Sepasang lenganmu yang ramping merangkul leherku, menghapus jarak di antara kita, membagi hangat tubuh dan harum aroma amber. Jika kau tidak bunuh diri , maka akan kusewa pembunuh bayaran untuk menembak mati dirimu. Seperti kematian John Lennon, kematianmu akan kureka sempurna. Indah. Sempurna. Kusiapkan khusus untukmu, karena tidak ada cinta yang lebih besar dari milikku. “Siapa namamu, gadis kecil?” Sudah berapa lama sejak pertemuan pertama kita? Kau yang baru menginjak remaja datang kepadaku, mengenakan gaun merah yang belum pantas kau kenakan. Sepasang matamu menatap tajam. Keras kepala. Tidak kulihat kelemahan sedikit pun di sorotnya. “Saya ingin membuang masa lalu. Anda boleh memberiku nama.” Aku bukan hanya memberimu nama. Aku memberimu hidup. Kurangkul dirimu bertahun-tahun seperti menjaga boneka porselen Cina, penuh kasih sayang dan kehati-hatian. Kubesarkan dan kutaburi dengan perhiasan. Kubukakan jalan menuju dunia yang kau impikan dan kupastikan dirimu selalu berada di puncak. Kini kau begitu bersinar, begitu menyilaukan. Ke mana pun kau pergi, ribuan serangga malam mengerubungimu, memancing cemburu. Sesungguhnya ingin kusimpan dirimu untuk diriku sendiri selamanya. Akan kuabadikan dalam kristal bening tanpa warna yang bisa kubawa-bawa ke mana pun aku pergi, menemaniku setiap saat di tengah kemacetan lalu lintas atau riuh suasana dalam gedung perkantoran, menjadi teman berbincang setia saat makan siang atau minum kopi sore di pelataran mall. Tapi kupikir lagi, jika aku menyewa pembunuh bayaran untuk menembak mati dirimu, pada akhirnya tubuhmu akan dibawa oleh polisi untuk diautopsi. Dadamu akan dibelah, organ-organ dalammu dikeluarkan untuk ditimbang, dilihat isinya, lalu bekas jahitan yang buruk akan melintang di tubuh indahmu nanti. Tuhan tahu kau tidak akan menyukai bekas jahitan itu, tidak juga aku, maka rasanya aku harus mempertimbangkan lagi opsi tadi. “Minum dulu.” Perhatianku teralih pada segelas minuman beralkohol yang kausodorkan. Kau mengulas senyum sambil menatapku. Di balik tebal polesan wajahmu, entah kapan, akan mulai muncul kerutan-kerutan yang menggerogoti kecantikanmu. Kulitmu berubah kusam dan rambutmu akan memutih. Aku tidak ingin melihat kilau dirimu hilang. Semakin cepat aku membunuhmu, semakin cepat aku mencegah itu terjadi. Pikiran itu kadang membuatku merasa seperti sudah kehilangan akal sehat. Tapi kemudian kusadari, itu hanya pikiran lelaki yang penuh cinta, seperti pecinta alam mengabadikan pemandangan indah kesayangannya dalam jepretan kamera. Aku lelaki yang penuh cinta dan kuputuskan sudah, aku akan membunuhmu dengan sederhana: membekapmu dengan bantal di tengah malam saat kau sedang tertidur lelap. Malam ini. Atau mungkin besok malam karena entah mengapa, tiba-tiba, aku merasa sangat mengantuk. “Ada apa?” kau bertanya dengan nada datar. Kurasa bukan hanya aku mengantuk, tetapi juga mengalami serangan sakit kepala yang kuat. Pandanganku mulai buram. Pendengaranku juga mulai kabur. Samar-samar kulihat bibirmu bergerak mengatakan sesuatu tapi aku tidak dapat mendengar ucapanmu dengan jelas. Kuulurkan tangan, mencoba meraih dirimu tapi tubuhku berat sekali, tidak bisa kugerakkan sesuai keinginan. Jatuh rebah aku ke lantai kamar saat kakiku tidak lagi mampu menopang tubuh. Mengapa kerongkonganku seperti tercekat? Aku tidak bisa bernafas. Dalam sisa-sisa kesadaran yang kumiliki, kulihat dirimu mendekat. Kau berjongkok di sisiku, membawa gelas kosong yang tadi kuminum habis alkohol di dalamnya. Tanganmu membelai wajahku dengan lembut seraya berbisik di telingaku, “Kurasa, tidak ada cinta yang lebih besar dari milikku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s